Mengalah pada teman yang sangat menyukai sepakbola Indonesia, tadi malam (13/1) saya terpaksa menonton siaran langsung final Copa Indonesia. Alih-alih pada pertandingan, saya lebih terkesan pada lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh Rio Febrian, sebelum pertandingan berlangsung. Tidak ada “Indonesia Raya” yang gegap gempita seperti di Piala Asia tahun lalu. Tempo diperlambat dan warana vokal Rio yang “empuk” membuat Indonesia Raya terdengar syahdu , hampir-hampir seperti Bagimu Negeri.
Saya bahkan sudah merasa akan terjadi “sesuatu” ketika nama Rio Febrian diumumkan sebagai penyanyi yang memandu (lead singer).Perasaan tersebut tentu saja ini sama sekali tidak didasarkan pada keraguan terhadap kualitas vokal Rio, Juara I Grand Champion Asia Bagus 1999. Justru karena kehebatan vokal Rio-lah, saya sudah menduga bahwa Indonesia Raya akan dinyanyikan dengan “cara yang tidak biasa” . Meskipun tetap menggunakan teknik vokal yang “rata-rata air”, pada akhirnya sulit menghindari kesan bahwa tadi malam Rio ingin meniru akrobat vokal yang biasa dilakukan para para penyanyi Afrika-Amerika dalam menyanyikan lagu kebangsaan mereka: “Star Spangled Banner“.
Sayangnya, tidak ada tempat bagi akrobat vokal dalam Indonesia Raya. Ia juga tidak cocok dinyanyikan sambil melepas topi, atau dengan meletakkan telapak tangan di atas dada kiri. Sebabnya jelas, Indonesia Raya bukanlah lagu “manis”, bukan pula lagu megah seperti yang diinginkan oleh Bung Karno . Indonesia Raya adalah lagu perang. Minimal, Indonesia Raya adalah lagu mobilisasi
Anda hanya bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya lantang. Seorang mungkin bisa mencoba memperhalus melodinya, bahkan membawakannya secara jazzy, tapi hal itu akan “mengkhianati” liriknya yang gagah dan provokatif seperti di bawah ini (perhatikan kata-kata bercetak tebal):
INDONESIA RAYA
(W.R. Supratman)
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku bangsa dan tanah airku
marilah kita berseru Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku hiduplah negeriku Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Banyak lagu-lagu bagus Indonesia yang bisa dibawakan dengan melodius dan kontemplatif. , Sebut saja “Syukur” (H. Mutahar), “Tanah Airku” (Ibu Soed), “Indonesia Pusaka” (Ismail Marzuki) sebagai contoh. Namun Indonesia Raya berbeda, ia bukan lagu kontemplasi. Dari liriknya, jelas Indonesia Raya merupakan lagu provokasi. Ia adalah mantra yang bisa mengubah bangsa Inlander yang minder dan pengecut menjadi bangga dan siap mati demi tanah airnya.
Lalu, seperti apa seharusnya rakyat Indonesia menyanyikan Indonesia Raya? Mungkin hanya Sang Penggubah, W.R. Supratman yang tahu persis. Boleh jadi seperti cara rakyat Prancis menyanyikan La Marseillaise, lagu yang dicurigai sangat mempengaruhi bagian awal gubahan Supratman yang lain : “Dari Barat Sampai ke Timur” alias “dari Sabang Sampai Merauke”. Tapi yang sangat jelas, sebagai lagu provokasi, ia tidak bisa dinyanyikan sambil klesetan di atas bale-bale.

Makanya bangsa ini bangunnya kelamaan, soalnya setiap nyuruh bangun nadanya lembut, jadi bangunnya pake ngomong nanti dulu ah……
Coba kalau nyuruh bangunnya pake nada lantang, BANGUN..!!!!!!!!!!! SUDAH SIANG..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! pastiakan kaget dan langsung cuci muka gosok gigi mandi biar besih dan segar kembali lalu langsung berangkat kerja
Comment by sabix — August 18, 2008 @ 10:08 am
kasihan Indonesia
Comment by christon — July 6, 2009 @ 11:23 am