Pertanyaan “Ayam dan Telur” muncul di benak saya mengomentari kekalahan Inter atas Liverpool dalam 32 besar Liga Champions (20/2) tadi pagi : Apakah Inter kalah karena harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-30? Atau The Reds memang bermain sangat bagus sehingga “Matrix” Materazzi terpaksa melakukan kerja kotor demi menghentikan sepak terjang Torres ?
Materazzi memang keterlaluan. Defender kelas dunia seperti dia tentunya hafal luar kepala bahwa kartu kuning adalah ganjaran bagi pemain yang menghentikan lawan yang sedang berada dalam posisi menguntungkan. Jadi, seharusnya ia tidak perlu protes karena dikenai kartu kuning setelah menjatuhkan Torres. Namun, darimana lagi julukan “Matrix” berasal, kalau bukan dari kenyataan bahwa Materazzi memang memiliki jalan pikiran yang rumit?
Kerumitan jalan pikiran The Matrix juga tecermin dari laga Serie A melawan AC Milan pada musim 2006/2007. Merayakan golnya yang membuat Inter memimpin 4-1, Materazzi yang sebelumnya sudah terkena kartu kuning, berlari sambil mencopot kaosnya. Tak ayal ia pun langsung dihadiahi kartu kuning kedua. Milan kemudian mencetak gol 2 kali lagi, bahkan nyaris menyamakan kedudukan. Interisti terus diliputi ketegangan hingga pertandingan usai. Dalam beberapa kasus kartu merah yang menimpa Materazzi, saya melihat justru aspek nonteknis lah yang sering membuat ia terkena masalah.
Terlepas dari kekonyolan The Matrix, Liverpool memang tampil luar biasa. Saya bahkan langsung terkenang pada penampilan gila-gilaan Steven Gerrard dkk. pada babak kedua, final Liga Champion 2004/2005 di Istanbul. Pressing ketat dan mobilitas mampu mereka peragakan tanpa kedodoran, sepanjang pertandingan. Inter tidak berkutik. Unggul ball posession 69%:31%, Liverpool pantas untuk menang.
Saya sempat berharap keajaiban a la timnas Italia, saat membuat Belanda keok pada semifinal Euro 2000, terjadi pada pertandigan dini hari tadi. Apalagi mengingat sektor pertahanan Inter sangat bagus sepanjang musim 2007/2008 ini. Sayangnya Materazzi membuyarkannya lewat perilaku konyol dan tidak bertanggung jawab.
Tapi, pertarungan belum usai. Masih ada pertandingan kaki ke-2 di Giuseppe Meazza, 11 Maret 2008. Forza Inter!

[...] kok dipecat? Karena gagal di 16 Besar Liga Champions? SALAHKAN MATERAZZI! Karena harus susah payah merebut Scudetto di pekan terakhir? SALAHKAN [...]
Pingback by Grazie, Mancio… « All That I Can’t Leave Behind — June 1, 2008 @ 1:36 pm