YOHANNES SIMAMORA’s WEBLOG

May 29, 2008

Acara “Debat” di TV One : Latihan Berkonflik Menggunakan Akal Budi

Filed under: contemplations,Indonesia-lah! — Yohannes Simamora @ 4:57 pm
Tags: ,

Acara “Debat” yang ditayangkan TV One setiap Hari Rabu mulai pukul 19.30 WIB menawarkan sesuatu yang berbeda dari acara sejenis yang biasa kita saksikan. Pembawa acaranya, Indiarto Priadi dan Alfito Dinova, tidak berperan sebagai wasit sebagaimana biasanya. Alih-alih, setiap mereka mengambil peran sebagai pendamping juru bicara salah satu kubu (yang berseberangan). Meski tetap menjaga koherensi tema perdebatan, tidak jarang Indiarto maupun Alfito mengeluarkan komentar-komentar provokatif untuk mendukung argumen juru bicara kubu yang ia bela.

Penonton (di studio) “Debat” tidak lain adalah kedua kubu yang berseberangan. Tempat duduk penonton, dengan demikian, ditata persis seperti pada pertandingan sepakbola. Perilaku a la suporter sepakbola, seperti berteriak mendukung atau mencemooh juga dapat kita dengarkan sepanjang acara. Yang menarik, pada acara tersebut tidak ada tempat bagi pengamat maupun penonton netral.

Secara keseluruhan, acara “Debat” menawarkan atmosfer yang lebih panas dibandingkan acara-acara sejenis. Dapat kita saksikan kengototan para juru bicara menyodorkan argumentasi, komentar pembawa acara yang justru menambah panas suasana, atau raut gusar dan gerutuan para penonton ketika menyimak pendapat “lawan”. Pikiran iseng saya lalu muncul,”Apakah TV One sudah mengantisipasi kemungkinan ‘Debat’ menjelma menjadi ajang tawuran massal?”

Pemikiran iseng saya didasari oleh kenyataan bahwa tiga puluh tahun lebih, Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi “Pancasila” telah merusak karakter bangsa ini. Berhasil menyelenggarakan Pemilu multipartai pada 1955, kemampuan bangsa ini untuk berdemokrasi justru terus merosot. Sementara para demokrat sejati menggunakan akal budi, dalam berkonflik bangsa ini justru mengikuti cara Pak Harto dan antek-anteknya. Sebagai “anak kandung” Rezim Orde Baru, saya ingat betul bahwa rezim tersebut menggunakan tiga pendekatan dalam menyelesaikan konflik yaitu : kekerasan, kekerasan, dan kekerasan.

Menyelesaikan masalah menggunakan akal budi sangat jarang kita lakukan. Wujud ketidakpuasan terhadap apa pun nyaris selalu bermuara pada anarki dan vandalisme. Dalam pilkada, para pendukung calon kepala daerah merusak fasilitas-fasilitas pemerintahan, mengintimidasi KPUD atau berkelahi dengan pendukung calon yang lain. Mahasiswa, kelompok intelektual yang konon merupakan “agent of change“, akhir-akhir ini justru gemar menambahkan acara menimpuki polisi serta merazia mobil berplat merah ke dalam jadwal penyampaian aspirasi mereka.

Dengan demikian, orang-orang yang hadir di acara “Debat” dapat berlatih menggunakan akal budi, sekaligus mengekang naluri primitifnya. Tidak hanya dalam menyampaikan aspirasi, tetapi juga dalam mendengarkan pendapat “lain”. Tidak hanya dalam mencari kesepakatan, tetapi juga dalam proses bersepakat untuk tidak sepakat. Penonton (di rumah) pun dapat belajar bahwa ada alternatif bagi penyelesaian konflik selain tawuran.

4 Comments »

  1. Alhamdulillah, sampe saat ini blm ada berita buruk tawuran yg terjadi dlm acara. Malahan acara ini makin digemari pemirsa. Maklum, mungkin di alam bawah sadar pemirsa sudah terpatri bhw acara yg menimbulkan efek emosional tu lebih nyaman utk ditonton.

    Comment by Zulfi — July 30, 2008 @ 10:15 pm

  2. Menurut gw, selama transparansi belum baik ga ada debat yg benar2 bagus yg bisa dilaksanakan.

    angka2, permasalahan2 real dlm penerapan, ‘hanya’ pemerintah yg plg tau. Kalaupun ada data lain yg dibawa pihak lain, pemerintah sebagai yg pernah melaksanakan akan punya sudut pandang lebih baik. Kita pernah lihat mantan ketua mpr amin rais didiamkan oleh jk dlm debat di-tv.

    jadi, selama pemerintah ga transparan, debat2 ya pantasnya gitu2 aja. Kecuali memperdebatkan ‘transparansi’ itu sendiri.

    gw setuju acara berita – hiburan tvone dan metrotv punya kelebihan sendiri dlm menyebarkan info. Tapi, debat yg gw pikirin betul2 lebih banyak porsi ke kontroversi temanya, bukan pada data2 pendukungnya. skrg, yg disebut kaya anak2 itukan krn mrk kekurangan pengetahuan dan data. Akibatnya hanya bicara yg normatif saja, tampa ke realisasi

    Comment by ivonne dewi arimbi — February 24, 2009 @ 3:39 pm

  3. @Mbak Ivonne
    Apa yang Anda sampaikan itu ada benarnya. Tidak sekedar debat normatif, para peserta debat bahkan terjebak dalam “debat kusir” karena kekurangan data.

    (Di lain sisi, saya juga sering tersenyum dibuat sementara pendebat yang melontarkan klaim tertentu dan mengakhirinya dengan kata-kata “Saya punya datanya!”).

    Bagaimana pun, mempertimbangkan kondisi bangsa ini yang masih canggung berdemokrasi, inisiatif TVOne menayangkan acara seperti Debat, patut mendapat apresiasi.

    Comment by Yohannes Simamora — February 27, 2009 @ 9:52 am

  4. Saya suka acara ini. Sangat membantu pemirsa dalam memahami sudut pandang dan pemikiran kubu yang sedang dipersaingkan. Sayangnya, peserta seringkali beranggapan bahwa debat adalah sesuatu yang harus memiliki pemenang (kebenaran mutlak). Tapi ya serunya di situ, tinggal tunggu ada timpuk-timpukan saja. Hehehe…

    Comment by guekiller — May 16, 2009 @ 8:57 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.