Turut dalam lautan manusia yang menuntut reformasi pada kurun Maret-Mei 1998, saya sering diusik oleh pertanyaan kontemplatif, “Apakah partisipasimu waktu itu benar-benar memengaruhi keruntuhan Orde Baru ? Apakah ada pengaruhnya bagi Pak Harto dan antek-anteknya seandainya kamu memutuskan untuk tidak bergabung dengan gerombolan Komite Aksi Mahasiswa ITS (KAMI) ?”. Sebagai seorang pelamun, pertanyaan tersebut saya coba cari sendiri jawabannya.
Mengingat kehidupan ini, termasuk situasi pada masa itu, merupakan sistem nonlinear, maka pendekatan chaos (bukan ca-os lho! -pen.) dapat diterapkan. Menurut konsep chaos, output sistem luar biasa pekanya terhadap kondisi awal (Slotine & Li, 1991). Dengan perkataan lain, perbedaan input yang kecil sekalipun dapat menghasilkan perbedaan output yang luar biasa besar. Itulah justifikasi bagi peran penting seorang biasa seperti saya, yang bukan orator, organisator apalagi tokoh gerakan, pada momen bersejarah seperti gerakan reformasi 1998.
Namun jangan salah, konsep chaos tersebut juga dapat diterapkan kepada peran setiap orang yang berada pada bingkai waktu Maret-Mei 1998. Mulai dari tokoh-tokoh nasional seperti Pak Amien Rais atau mendiang Cak Nur, Cak Abdul Rokhim yang jadi Komandan saya di KAMI, sampai ibu-ibu Keputih dan Gebang yang menyumbangkan air minum a la kadarnya kepada kami yang sedang melakukan aksi.
Jadi, seandainya ada yang menggunakan istilah muluk seperti gerakan rakyat semesta untuk gerakan 1998, saya akan setuju seratus persen. Implikasinya, tidak seorang atau satu kelompok pun yang berhak secara eksklusif mengklaim perannya dalam keruntuhan Orde Baru dan Pak Harto.
Dari cerita seputar reformasi 1998, lamunan saya beralih ke fluktuasi harga BBM dalam kurun lima tahun terakhir. Ketika harga minyak bumi melonjak sampai USD 147, saya dengan berat hati menyepakati keputusan pemerintah menaikkan harga BBM.
Manut pemerintah sajalah, begitu pikiran saya. Wong harga minyak bumi naik sedemikian tajam, mosok harga BBM dipaksakan tetap. Mungkin, fluktuasi harga BBM memang mirip dengan fluktuasi harga prosesor atau hard disk drive di Surabaya Mall (THR), yang dinyatakan dalam USD. Apalagi, saya tidak punya hitung-hitungan canggih mengenai sejatinya harga BBM seperti yang dipunyai Pak Kwik Kian Gie.
Mengikuti logika yang sama, saya gembira ketika kemudian harga minyak bumi terus merosot. Penurunan harga minyak bumi tentulah diikuti dengan penurunan harga BBM. Ternyata betul. Tidak terlalu lama, pemerintah mengumumkan penurunan harga BBM.
Namun, rasa lega saya karena harga BBM yang turun itu mendadak diinterupsi oleh sebuah iklan politik partai pendukung utama Pemerintah yang berkuasa saat ini. Mereka meminta anak bangsa terus mendukung pemerintah yang menurunkan harga BBM sampai tiga kali. Pertama kali dalam sejarah!
Saya tidak punya urusan dengan mereka yang berniat mendukung kesinambungan rezim ini. Tapi, apa maksud partai tersebut dengan “pemerintah menurunkan harga BBM”? Masih ditambah dengan embel-embel “sampai tiga kali” pula? Sungguh mengganggu.
Menaikkan harga BBM ketika harga minyak bumi naik, kemudian menurunkannya ketika harga minyak bumi turun. Keputusan seperti itu rasanya sulit untuk diklaim sebagai sebuah pencapaian. Saya jadi membayangkan bagaimana toko-toko komputer di THR mengklaim penurunkan harga prosesor dan hard disk drive sebagai kebaikan atau prestasi mereka, padahal sejatinya karena nilai tukar dolar merosot terhadap rupiah.
Pusing dengan iklan politik, akhirnya saya harus kembali ke bualan saya mengenai teori chaos. Makna filsafati dari teori chaos bukanlah sekedar seseorang atau sesuatu dapat menjadi pemicu suatu peristiwa besar. Yang lebih mendasar adalah, setiap makhluk yang berpikir dapat bersyukur bahwa bagi The Supreme Being setiap ciptaanNya adalah bermakna, dan saling memengaruhi dengan cara yang ajaib dan kompleks. Dengan demikian, teori chaos tidak bisa digunakan seseorang menjustifikasi diri sebagai pelaku utama atas suatu perubahan besar. Apalagi kalau terbukti bahwa yang bersangkutan sebenarnya nyaris tidak berbuat apa pun terhadap perubahan tersebut.

Sip, tetap nulis ya Mas Sampang!
Comment by Hatta — February 4, 2009 @ 1:19 am
Kemarin SBY datang ke EPSON-Cikarang, sementara isunya adalah EPSON akan merumahkan 200 karyawannya. Ironisnya pabrik tetangga EPSON sudah 3 bulan lebih demo dengan spanduk besar “Jadikan kami pengguran KAYA RAYA”. Saat yang sama pula setiap hari mobil-mobil baru bertebaran di sepanjang jalan Sudirman – Thamrin . . . . Apakah ini juga benar-benar karena BBM ?
Comment by Bambang Hermanto — February 8, 2009 @ 8:48 pm
Pernah ndak om kepikir kenapa harga minyak turun?
Setelah semua blok dikuasai kumpeni2 besar, karena kumpeni kecil ndak bertahan (coba hitung, kalau lifting cost aja sekitar 30rb/barrel, klo harga minyak 40, mak…..tipis untungnya), pada saat itulah harga minyak akan naik drastis…….
Gak percaya, coba lihat, harga minyak turun, namun demand akan eksplorasi ga berhenti kok, dan kumpeni2 besar yang notabene agresif, bukan yg kecil2…(alamak…..saya cari duitnya juga dari situ…buat beli beras….hiks…..), artinya mereka sedang persiapan saat ini……….
Aku lali ndhisik sing nyilihi aku buku “The sofie’s verden” atawa “dunia Sofie” iku awakmu opo mardhono, yang terlintas cuma bahwa kita ini hanya bidak2 kecil dari sebuah permainan besar………
Kadang2 sebuah pion sangatlah menentukan……namun tetap saja, hanya menjadi bagian sebuah permainan dan tidak mempunyai pilihan…………
Pada saat kita menyadari bahwa kita eksis, pada saat itulah kita semakin sadar bahwa eksistensi itu hanya sebuah permainan seperti layaknya seseorang menggerakkan sebuah boneka….mati namun seperti bergerak hidup….dan itulah kita……apakah itu bisa disebut sebuah input? meskipun kecil?
wis mpang……mbulettt tambah suwi……piye kabare??????
Comment by andre iwoel — February 11, 2009 @ 8:15 pm