Yohannes Simamora's Weblog

In regione caecorum rex est luscus.

Dalam Kenangan: Badrus Syamsi

“Ealah, sik duwuran IPK-ku tibakno [ternyata IPK saya masih lebih tinggi]”, komentar Badrus Syamsi ketika melihat IPK 2.40 di transkrip S1 saya, suatu hari di Sekber Unit Kegiatan Mahasiswa ITS, lebih dari enam belas tahun yang lalu.

Mungkin dia iri karena saya lulus lebih awal dari dia. Badrus dan saya seangkatan di Teknik Fisika ITS (1994/F-29). Saya lulus Februari 2002 (15 semeseter), sementara dia satu semester kemudian.

“Pembandinge kok aku? Standarmu kok rendah ngono [Pembandingnya kok saya? Standar kamu kok rendah begitu]?” balas saya. Di balik dialog saling cela ini tersimpan fakta bahwa IPK Badrus 2.45; dan dia menyombongkan kelebihan indeks 0.05 itu pada saya!

Gojlok-gojlokan (saling ledek) memang jadi menu sehari-hari dalam lingkaran pertemanan kami.  Sejak tahun 1996, Badrus dan saya sama-sama aktif di HMTF, di Kantin ITS, di Unit Kegiatan Full Body Contact, dan terutama di TFFM 91.95 MHz–radio ekspermental kebanggaan HMTF. Di TFFM, Badrus menjadi seorang penyiar–kami menyebut diri “penyaji”– yang paling banyak penggemarnya.

Hingga era aplikasi media sosial seperti Facebook dan kemudian Whatsapp, Badrus dan masih berada dalam satu lingkaran pertemanan. Belakangan, kami memiliki pandangan politik yang berseberangan. Oleh karennya, kami bisa berdebat dengan sangat sengit, pernah berhari-hari, tentang suatu topik di WAG.  Orang yang mengenal kami baru saja boleh jadi mengambil kesimpulan bahwa kami berseteru.

Padahal, Badrus bagi saya tetaplah Badrus yang sama. Badrus yang mengajak saya ke desanya di Ambunten, Kabupaten Sumenep, berkenalan dengan ayah-ibu dan adiknya yang menerima saya dengan penuh keramahan. Badrus yang suatu malam mendatangi saya dengan perasaan berbunga-bunga berkata, “Kamu harus jadi orang pertama yang tahu ini” lalu memberitahukan bahwa dia mulai pacaran dengan seorang perempuan–yang kelak menjadi istrinya dan ibu dari anak-anaknya.  Badrus yang menyempatkan mampir menemui saya di Tegal ketika dia dalam perjalanan darat dari Surabaya ke tempat kerjanya di Jakarta. Badrus yang Idul Fitri kemarin kemarin mengirimi saya petis ikan khas Madura.

Tadi pagi (31/12), ketika saya membuka Telegram di PC untuk mengecek tugas dari mahasiswa, ada sebuah pesan, “…Badrus meninggal”.

“Badrus siapa?”, balas saya, mungkin ingin menyangkal kenyataan. Berdebar-debar saya mengaktifkan ponsel lalu mengecek WAG. Ternyata betul. Badrus dilarikan ke RS Haji Surabaya kemarin, dan meninggal tadi pagi.  Ia meninggal dalam usia yang relatif masih muda, 41 tahun (1977-2018). Saya terdiam dan menangis.

Beristirahatlah dengan tenang, Saudaraku. Tuhan menghibur dan memelihara keluarga yang kau tinggalkan.

badrus

(Foto: Arief “Acok” Putranto)

 

 

 

 

 

 

1 Comment

    Trackbacks

    1. In memoriam: Badrus Syamsi – ~ kepingan koratkarit paling pojok ~

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: